Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2019, Program Peduli mengumpulkan 59 anak dari berbagai daerah Indonesia di Temu Anak PINTAR (Pandu Inklusi Nusantara) : Untuk Indonesia Ramah Anak.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberdayakan anak-anak sehingga mereka mampu mengartikulasikan kepentingannya serta bisa menjadi teman diskusi untuk menyelesaikan persoalan anak di lingkungan sekitarnya.

Sekretaris LAKPKESDAM NU, Ajat Sudrajat menyampaikan kegiatan Temu Anak ini dilaksanakan selama 3 hari, mulai tanggal 20-22 Juli 2019 di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

“Selama 3 hari anak-anak dibagi kedalam 3 kelas, yakni kelas desa ramah anak, kelas keberagaman, dan kelas isu spesifik. Di isu Desa Ramah Anak, mereka belajar bagaimana peran anak dalam mendorong kebijakan ramah anak, serta bersama pemerintah merumuskan Desa Ramah Anak”, Katanya.

Dalam isu Keberagaman, lanjut Ajat. Anak-anak belajar tentang toleransi dan saling menghargai antar sesama anak bangsa.

“Indonesia merupakan negeri yang multikultural, anugerah keberagaman ini sejatinya harus ditanamkan kepada anak-anak, agar kelak ketika mereka menjadi orang dewasa, mereka bisa merawat kebhinnekaan, merangkul berbagai kalangan, serta menjadi provokator perdamaian di daerahnya masing masing”, katanya.

Sementara di isu spesifik anak anak belajar tentang bagaimana peran serta anak dalam menghadapi berbagai isu seperti pernikahan dini, kekerasan, pekerja anak, dan lain sebagainya.

“Anak harus dilibatkan dalam penyelesaian masalah atau pelanggaran hak anak yang terjadi, satu praktik baik yang menjadi pembelajaran bagi anak-anak adalah bagaimana anak di Kabupaten Bulukumba bisa terlibat dalam pencegahan perkawinan anak, anak anak itu menjadi pelopor dan pelapor, giat bekerjasama dengan pemerintah dalam menangani isu tersebut. Praktik baik seperti itu yang perlu untuk di duplikasi ke daerah lain, sekalipun dengan konteks permasalah yang berbeda”, Lanjutnya.

Kelas ini menjadi wadah untuk menggali ide tentang penyelesaian isu. Ide-ide mereka diartikulasikan ke dalam bentuk karya seperti: maket, mural, dan vlog. Lalu, hasil karya mereka dipresentasikan di hari puncak Temu Anak PINTAR ke para tamu undangan termasuk pemerintah terkait.

Dalam kesempatan itu, LAKPESDAM turut membawa 2 orang perwakilan Forum Anak. Mereka adalah Yayu Nurfarida dari Forum Anak Tasikmalaya (FANTASIK), dan M. Salman Al-Farisy dari Forum Anak Kecamatan Mangkubumi.

Yayu adalah salah satu siswi SMK di Tasikmalaya, sedangkan Salman adalah salah seorang siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs). Mereka berkesempatan untuk bertemu dengan anak-anak dari daerah lain, serta belajar bagaimana Anak berperan dalam berbagai hal, baik dalam pemenuhan hak anak, pencegahan kekerasan, atau dalam partisipasi pembangunan.

Yayu masuk kedalam kelas Isu Spesifik, ia menceritakan bagaimana Forum Anak di Tasik berpartisipasi dalam menekan angka kekerasan. Dari kelas itu, anak-anak membuat Vlog yang mengandung pesan penting tentang harapan-harapan anak kepada semua pihak, terutama dalam pengentasan kekerasan terhadap Anak.

“Kelas ini kami jadikan sebagai momentuk untuk belajar bersama, bagaimana anak-anak berperan dalam mencegah terjadinya kekerasan”, ujarnya.

Sedangkan Salman, masuk kedalam kelas keberagaman. Di kelas itu Salman turut menyampaikan potret diskriminasi yang kerap terjadi menimpa anak-anak yang berbeda keyakinan.

“Di Tasik, ada anak-anak dari kelompok kepercayaan yang berbeda kerap menjadi korban stigma, di cap sesat, kafir, dan lain sebagainya. Padahal sebagai seorang anak, seharusnya kita bisa belajar menghargai keberagaman”, ujarnya.

Acara itu diakhiri dengan peringatan Hari Anak Nasional yang digelar di Lapang Karebosi, Makassar. Turut hadir dalam acara itu, Kepala Daerah dari berbagai Kota/Kabupaten dan provinsi. Hadir juga Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohanna Yambise. Pada kesempatan itu Bunda Yo, menyampaikan harapan-harapan besar untuk anak-anak Indonesia serta membagi-bagikan hadiah untuk anak yang berprestasi.

Temu Anak PINTAR 2019 ini diharapkan menjadi ikhtiar untuk meningkatkan kemampuan dan kapasitas anak-anak dalam mengartikulasikan pandangan mereka tentang solusi atas isu-isu anak di komunitasnya.

Red (Ss,Irm,Aj,AS)