Valentine Day’s (Hari Valentine) sudah bukan hal yang asing lagi di telinga kita. Entah siapa yang pertama kali menyelundupkannya ke Negeri tercinta ini, apakah imbas dari globalisasi melalui medianya yang semakin hari semakin melebarkan sayap, ataukah karena kelengahan kita sebagai anak bangsa yang selama ini—tanpa disadari —selalu menerima dan mempersilahkan tradisi-tradisi asing masuk tanpa disaring terlebih dahulu? 
Sejarah Hari Valentine
Hari Valentine (Valentine Day) yang jatuh setiap tanggal 14 Februari memiliki sejarah panjang yang erat berhubungan dengan masyarakat nasrani. Kata ‘Valentine’ sendiri diambil dari seorang pendeta ‘pelayan tuhan’ yang bernama Santo Valentine. Ia-lah orang yang berani menolak kebijakan Kaisar Romawi Claudius melarang pernikahan dan pertunangan.
Pelarangan ini berawal dari kesulitan pemerintahan Romawi merekrut pemuda dan para pria sebagai pasukan perang. Padahal pada masa itu, pemerintahan dalam keadaan perang dan sangat membutuhkan tenaga sebagai prajurit. Sang Kaisar menganggap kesulitan ini berasal dari keengganan mereka meninggalkan kekasih, istri dan keluarganya. Oleh karenanya, Sang Kaisar mengeluarkan peraturan yang melarang pernikahan, karena pernikahan dianggap sebagai salah satu penghambat perkembangan politik Romawi. Peraturan ini kemudian ditolak oleh santo Valentine sehingga ia dihukum mati pada tanggal 14 Februari 270 M.
Hari inilah yang diabadikan oleh gereja sebagai hari Valentine dan dijadikan momentum simbolik pengungkapan kasih sayang oleh masyarakat nasrani. Hanya saja, kemajuan teknologi informasi mampu meruntuhkan tembok pemisah ruang dan waktu. Hingga berbagai budaya itu dianggap milik bersama. Maka banyak sekali kaum muslim yang ikut memeriahkan hari Valentine dengan berbagai tradisinya dan banyak pula kaum nasrani yang ikut memeriahkan hari raya. Bahkan mereka saling memberikan ucapan selamat.
Dalam Wikipedia bahasa Indonesia dijelaskan, bahwa di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus menyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di jalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah.
Valentine adalah Hari Raya Gereja
Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), nama Valentinus paling tidak bisa merujuk tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda:

  • seorang pastur di Roma
  • seorang uskup Interamna (modern Terni)
  • seorang martir di provinsi Romawi Africa.

Koneksi antara ketiga martir ini dengan hari raya cinta romantis tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan Santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.
Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus dia Via Tibertinus dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine, di mana peti emas diarak-arak dalam sebuah prosesi khusyuk dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.
Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santa yang asal-muasalnya bisa dipertanyakan dan hanya berbasis legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.

Polemik-polemik yang diselundupkan melalui Valentine Day’s

  • Mereka menyebutnya dengan nama Hari Kasih Sayang dan mereka berusaha menjustifikasikan istilah tersebut dengan menyebarkannya melalui media-media yang mereka punya. Terutama kepada para pemuda dan pemudi yang sedang dilanda asmara, dan meyakinkan mereka bahwa hari tersebut adalah momen yang paling tepat untuk mengekspresikan asmara tersebut dengan semau hati mereka. Dalam kontek ini perzinahan pun—yang menurut Islam adalah termasuk fawâhisy atau dosa besar yang sangsinya sangat berat—mereka mencoba untuk melegalkannya atas dasar kasih sayang tersebut. Astaghfirullâhal ‘adzîm, kalau begitu bukankah hari tersebut—jka dirayakan—adalah hari kedurhakaan dan hari dekadensi moral?.
  • Di hari tersebut banyak sekali orang-orang yang menyatakan cintanya, baik kepada lawan jenis atau sesama jenis. Bukankah itu hal yang bagus?. Ungkapan tersebut ingin mengelabuhi kita agar kita tidak tahu bahwa hal tersebut juga diajarkan oleh agama Islam. Dalam hal ini nabi pun pernah bersabda “Jika salah satu dari kalian mencintai saudaranya, maka hendaklah ia memberitahukan hal tersebut kepadanya”. (HR. Al-Tirmidzi dan Ahmad) dan hal tersebut langsung dipraktekkan oleh Beliau sendiri ketika hendak berwasiat kepada Shahabat Mu’ad, Beliau berkata “Wahai Mu’ad, demi Allah, sungguh aku mencintai kamu. Demi Allah, sungguh aku mencintai kamu…”. Ungkapan kata cinta tersebut tidak sembarangan diucapkan kepada siapa saja, tetapi ia mempunayai syarat-syarat dan ketentuan, diantaranya adalah subyek dari ungkapan tersebut adalah orang Islam, sesama jenis baik secara khusus atau umum, lain jenis secara umum atau yang mempunyai ikatan kerabat dan secara khusus jika berniat menjalin ikatan keluarga dengannya saat Khitbah (lamaran), sebelum atau sesudahnya.
  • Pada hari tersebut banyak sekali hadiah-hadiah yang dibingkiskan, yang mendapatkannya pasti merasa bahagia. Bukankah membuat orang bahagia itu adalah sebuah kebaikan? Jawabannya “ya, betul”, tapi bukankah Islam juga mengajarkan hal demikian?, bahkan Islam tidak pernah membatasinya pada hari tertentu dan terhadap orang tertentu. Nabi bersabda : ”Saling memberi hadiahlah di antara kalian, maka kalian akan saling mencintai”, dan “Saling berhadiahlah di antara kalian; karena sesungguhnya hadiah itu dapat menghilangkan rasa dendam dalam hati…”. (HR. Abu Hurairah ra).

Selain tiga polemik tadi masih banyak lagi polemik-polemik yang diselundupkan untuk meyakinkan bahwa perayaan hari Valentine tersebut adalah tradisi atau budaya yang bisa dan layak diterima di Negeri tercinta ini.
Sikap Muslim Terhadap Hari Valentine
Baiknya, bagi kaum muslimin (khususnya yang sering berinteraksi dengan kaum nasrani) harus berhati-hati karena bisa saja terjatuh dalam kekufuran apabila dia salah meletakkan niat (maksud hatinya). Karena dalam Bughyatul Musytarsyidin dengan jelas diterangkan bahwa:

  1. Apabila seorang muslim yang mempergunakan perhiasan/asesoris seperti yang digunakan kaum kafir dan terbersit dihatinya kekaguman pada agama mereka dan timbul rasa ingin meniru (gaya) mereka, maka muslim tersebut bisa dianggap kufur. Apalagi jikalau muslim itu sengaja menemani mereka ke tempat peribadatannya. 
  2. Apabila dalam hati muslim itu ada keinginan untuk meniru model perayaan mereka, tanpa disertai kekaguman atas agama mereka, hal itu terbilang sebagai dosa. 
  3. Dan apabila muslim itu meniru gaya mereka tanpa ada maksud apa-apa maka hukumnya makruh.

(مسألة ي) حاصل ما ذكره العلماء فى التزيي بزي الكفار أنه إما أن يتزيا بزيهم ميلا إلى دينهم وقاصدا التشبه بهم فى شعائر الكفر أو يمشي معهم إلى متعبداتهم فيكفر بذالك فيهما وإما أن لايقصد كذلك بل يقصد التشبه بهم فى شعائر العيد أو التوصل إلى معاملة جائزة معهم فيأثم وإما أن يتفق له من غير قصد فيكره كشد الرداء فى الصلاة
Namun jika diperhatikan, fenomena sekarang tidaklah demikian. Kebanyakan kaum muda yang merayakan valentine dengan berbagai macam tradisinya itu sama sekali tidak berhubungan dengan agama. Bahkan jarang sekali dari mereka yang mengerti hubungan valentine dengan agama nasrani.
Yang berlaku sekarang dalam valentine (yang telah mentradisi di kalangan kaum muda juga para santri) menjurus kepada kemaksiatan yang dapat dihukumi haram. Misalkan merayakan valentine dengan mengutarakan rasa sayang di tempat yang sepi dan hanya berduaan. Atau merayakan valentine bersama-sama yang mengganggu ketertiban umum. Apalagi merayakannya dengan pestapora yang me-mubadzirkan harta. Sungguh semua itu diharamkan dalam ajaran Islam. Karena segala hal yang bisa dianggap menyebabkan terjadinya makshiayat hukumnya seperti maksyiatan itu sendiri. Demikian dalam Is’adurrafiq.
ومنها الإعانة على المعصية أي على معصية من معاصي الله بقبول أو فعل أوغيره ثم إن كانت المعصية كبيرة كانت الإعانة عليها
Kasih Sayang dalam Islam bukan Valentine Day
Meskipun di dalam Islam menganjurkan kasih sayang, tapi suatu Ikhtifal (perayaan) Valentine Day yang selama ini diperingati para kaum muda-mudi mengandung unsur maksiat. Sehingga Islam secara tegas peringatan Valentine Day hukumnya haram.
Pasalnya, dalam pandangan Fiqh, Valentine day dikategorikan sebagai perilaku ikhtilat (percampuran laki-laki dengan perempuan bukan muhrim). Baik ditempat sepi maupun ramai dengan saling bermesraan memadu cinta layaknya suami istri.
“Perilaku itu sangat tegas diharamkan oleh Islam,” tutur Wakil Kepala Mualimin Mualimat Pondok Pesantren Al Hikmah 2 Benda Sirampog Brebes Mohammad Muzakki, S.Pd. dalam Halaqoh Valentine Day di Aula SMA 1 Brebes, Kamis (12/2) sore.
Kategori kedua, lanjut Muzaki, valentine day sebagai Kholwah (berdua antara laki-laki dengan perempuan yang bukan suami istri dan bukan muhrim) yang cenderung sampai pada tahap ngelencer ke kamar untuk berzina.
Menurut Muzakki, pengharaman ini bertujuan untuk kemaslahatan manusia itu sendiri dalam memelihara keturunan sebagai makhluk yang dimuliakan Allah SWT, karena menjaga nafsunya (Hifdz nafs).
Islam menganjurkan berkasih sayang kepada orang tua, guru, tetangga, tamu dan sesama dengan cara menebar senyum serta tidak berbuat angkara murka di muka bumi. “Allah SWT pun Arahmanurohim. Kasih sayang dalam Islam bukan Valentine Day, ” pungkasnya.

Sumber : aswajamag.blogspot.com