Khilafah saat ini menjadi momok yang sangat menakutkan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia dan dunia internasional. Kehadirannya dinilai identik dengan unsur radikalisme dan terorisme.

ISIS (Islamic State of Iraq and Suriah) sebagai salah satu contohnya, adalah sekelompok umat Islam yang tengah berjuang mendirikan paham Khilafah dengan pendekatan kebencian, permusuhan dan kekerasan. Mereka tidak segan-segan akan menyerang, membunuh dan menghancurkan siapapun yang berbeda paham dengannya.

Tokoh Budaya sekaligus mantan Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol (Purn.) H Anton Charliyan mengatakan, munculnya gerakan seperti ISIS dan HTI yang cenderung mendukung gerakan terorisme dan radikalisme mengatas namakan agama menjadi ancaman bagi bangsa kita.

“Indonesia yang plural, multikultur dan agamis sangat rentan dengan ancaman ini, karena bisa memecah bangsa (ingat devide et impera),” Kata Anton Charliyan pada Diskusi Publik “Pancasila dan Khilafah” di Hotel Kampung Sumber Alam Garut, Sabtu (14/12/2019).

Sementara itu Peneliti Senior LIPI yang juga Pengurus Pusat Muhammadiyah Najib Burhani menyampaikan, sebagian kelompok dalam Islam meyakini bahwa Khilafah adalah sistem yang dimandatkan oleh Tuhan dan karenanya bisa mempersatukan umat Islam dan menjadi solusi terhadap seluruh persoalan umat manusia.

Sayangnya konsep Khilafah saat ini dikooptasi oleh pemahaman monolitik Hizbut Tahrir dan kelompok teroris Islamic State (IS) di Suriah.

Satu hal yang perlu dicatat bahwa seandainya Ahmadiyah diakui sebagai bagian dari Islam, maka sistem kekhilafan Islam sebetulnya tidak benar-benar hancur.

Ini karena sebelum Turki Usmani dibubarkan oleh Mustafa Kemal Ataturk, pada tahun 1908 kelompok Ahmadiyah telah mendirikan kekhilafahan baru ini.

Menurut Mubaligh Ahmadiyah, Mln. Hafizurrahman Danang mengatakan, konsep khilafah versi Ahmadiyah berbeda dengan yang dianut Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) maupun Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Danang menyebut konsep khilafah yang dianut Ahmadiyah adalah sebagaimana yang ada dalam Al-Qur’an di surat An-Nur ayat 55.

Dia menjelaskan, ayat itu menyatakan bahwa Allah menjanjikan akan memberikan imam atau khalifah bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh.

“Tujuannya [Allah memberikan khalifah] dalam ayat itu [ada] dua: memberikan keteguhan dalam beragama Islam dan memberikan keamanan dalam menghadapi berbagai ancaman yang menimbulkan ketakutan,” kata Danang

Oleh karena itu, dia berpendapat, kedatangan khalifah ke dunia adalah untuk memberikan suasana damai kepada umat, dan bukan sebaliknya, menebar rasa takut hingga bencana peperangan atau pembunuhan.

Tokoh Nahdlatul Ulama Garut, KH. Aceng Hilman mengingatkan, bahwa kita jangan anti terhadap khilafah, karena itu bagian dari sejarah Islam. Kelompok HTI hanya menggunakan khilafah sebagai bungkus, tapi isinya diganti dengan muatan politik dan kekuasaan.

Pancasila merupakan kesepakatan ulama, sehingga Pancasila dan Khilafah adalah satu garis lurus yang tak bisa dipertentangkan.

Tokoh ulama muda NU yang juga Pimpinan Pondok Pesantren Fauzan Garut ini juga menegaskan : “Kita tidak boleh menafikan bahwa konsep khilafah adalah bagian dari kesejarahan Islam, jangan fobia dengan kata khilafah”.

Ceng Hilman juga mengutip hadist Musnad Imam Hambal. Menurut hadist tersebut, patokan utama untuk membentuk Khilafah adalah kalimat ‘alaa minhajjin nubuwwah. Dan khilafah model seperti ini menurut beliau sudah berakhir pada masa Khulafaur Rasyidin, dimana berdasarkan beberapa Hadist, Ulama berpendapat, bahwa Khilafah hanya berumur 30 tahun lamanya.

Dan syarat berikutnya agar sebuah sistem disebut Khilafah adalah “ud ‘uu ilaa sabili robbika bil hikmah wal mau ‘idzatil hasanah”, yakni menyeru manusia kepada jalan Allah dengan hikmah dan tutur kata yang baik.

sistem Khilafah model ISIS, HTI dan lainnya sudah keluar dari patokan dan syarat untuk berdirinya Khilafah. Kekerasan dan kekejaman yang dilakukan kelompok ISIS / HTI sudah jelas menyalahi syarat-syarat tersebut. Kelompok-kelompok ini telah mengelabui umat Islam dengan label agama untuk kepentingan kelompoknya.

“Mereka menggunakan cover Khilafah, akan tetapi dengan isi yang sama sekali tidak sesuai dengan Khilafah ‘alaa minhajjin nubuwwah, yang jelas-jelas muncul justru kepentingan politik dan perebutan kekuasan”, ujarnya.

Jika HTI atau ISIS mengembangkan khilafah dengan konsep saat ini, maka itu keluar dari jalur Khilafah Ala minhajin nubuwwah. Karena Rasul tak pernah mengajarkan membunuh sesama manusia.